Terima kasih telah mengunjungi blog saya. Kali ini saya akan menunjukan kepada Anda beberapa puisi hasil ciptaanku. Dengan tema "Kemanusiaan". Selamat membaca dan semoga bermanfaat. :)
KAKI-KAKI KECIL
Buah Karya Deni Priyantoro
Kaki-kaki
kecil
Lembut
kaki-kakimu mulai menapak
Menelusuri
celah-celah kota
Merajut
hidup di terik surya
Ialah kaki-kaki kecil
Pejuang
hidup tiada asa
Hidup
dari hidupnya
Tercurah
tuk sang bunda
Kaki-kaki
kecil
Senyummu
tiada merekah
Terbalut
keringat yang terurai
Kini
kau tercecer dan terabaikan
Ialah kaki-kaki kecil
Manusia
tak berdosa
Mengais
hidup
Melawan
maut
Kaki-kaki
kecil
Betapa
tegarnya dirimu?
Tidakkah
orang-orang melihatmu
Terjerat
dalam hidupmu kini
Ialah kaki-kaki kecil
Menebar semangat di celah fajar
Memikul
keringat di tengah surya
Menguras tangis di kala senja
Kaki-kaki
kecil
Ribuan
kali kau tersungkur
Ribuan
kali kau tertangis
Tapi,
ribuan orang tak mengenalmu
Ialah kaki-kaki kecil
Makan
tiada pernah ia menelan
Tidur
tiada pernah ia terpejam
Menangis
tiada pernah ia tersedu
Kaki-kaki
kecil
Dengarlah
waktu yang kan bercerita
Lihatlah
perjalanan hidup di depanmu
Percayalah,
Tuhan kan berikan sebongkah senyuman untukmu
ibu
Buah Karya Deni Priyantoro
Ibu....
Di
dalam hening yang sepi
Terlintas
kalbumu menyentuh hati
Di
dalam kejauhan yang tak terlihat
Kau
memandangku dalam balutan kasihmu
Ibu....
Di kala sang fajar belum
menjelang
Di
sana kasihmu mulai kau berikan
Kau adalah pahlawan
bagiku
Padamu semangat juang tiada
tara
Ibu....
Telah kau hiraukan
jiwa dan ragamu
Telah kau lupakan
suka dukamu
Telah kau leburkan
semua rasa sakitmu
Demi anakmu lebih
maju
Ibu....
Waktumu
hanya tercurahkan untukku
Tak
pernahkah kau menatap dirimu?
Tubuhmu
terlalu lelah tuk menimangku
Namun jiwa
ragamu begitu kokoh di hadapanku
Ibu....
Tangisku membuatmu
terbangun di tengah hening malam
Tutur lembutmu
mengalun di sana
Menuntun jiwa tuk
tertawa
Kau telah tenangkan
kalbu dalam diriku
Ibu....
Setetes air
matamu
Sangatlah
berarti bagiku
Kau adalah guru untukku
Padamu kau
ajarkan merangkai kata
Ibu....
Betapa berharganya
dirimu
Semangatmu
Kegigihanmu
Cinta kasihmu
Kan selalu terukir
indah di dalam hatiku
Riwayat kalbu
Buah Karya Deni Priyantoro
Tersungkur di bawah kaki langit
Embun telah membawa kabur segala mimpi
Riwayat hidup terasa sulit
Temani tangis di dalam hati
Umur telah menyayat kalbu
Lentera hidup padam terurai
Insan berbintang terbentang ilmu
Sayang, semuanya telah terbuai
Dulu
buta sekarang tiada melihat
Erat
menggapai tangis duka
Namun
terhempas semua, harapan sirna
Indah di angan sulit digapai
Pada senja terlintas surya
Rupa hati tiada terlihat
Indah bila semua tertangis
Yang bertahta menderu duka
Anggap dunia telah tiada
Namun, kemanakah datangnya hati
Tiada mata tiada terlihat
Orang menangis tersayat kalbu
Ribuan nyawa terenggut sudah
GUBUG
DUKA
Buah Karya Deni Priyantoro
Aku yang kini
terbaring diranjang tua
Hanya bisa menangis
menanggung lara
Mata yang telah
merubah warna
Hingga air mata
menjadi mutiara
Kini, tiada teman
pelipur lara
Hidup hanya sebatang kara
Dirundung pilu
Ditelan duka
Tubuhku
yang kini usang
Dengan
cacing yang menggerogotiku
Hingga
tubuh bersarang lalat
Dan
sang gagak yang menanti di ambang pintu
Aku yang kini terbaring
lemah
Bagai mayat yang telah
sirna
Terbungkus dalam kain,
entah kapan
Berkelambu sarang
laba-laba
Malam
ini, guntur menjerit merdu
Tanah-tanah
berlarian
Badai
menyerbu terjang
Ombak
bertemu alam
Kini, ku hanya terbaring
lemah
Berselimut angin dingin
Beralaskan air mata
Berharap sang mentari
segera menghampiri
Oh
Tuhan....
Inilah
aku yang selalu sendiri
Tanpa
cinta, tanpa teman, tanpa mimpi
Dan
esok, aku akan mati karena dingin dalam diri
Disini,
di gubug duka....
Jauh dari dunia
Buah Karya Deni Priyantoro
Cukuplah
bagiku derita ini
Bersama
mentari yang selalu menemani
Pernahkah
kau memilih singgasana?
Di
tengah rimba yang selalu gulita
Kini,
aku kian merana
Yang
semakin jauh dari dunia
Janji sang tuan hanya menjadi debu
Membuatku
dirundung pilu
Darah
daging menjadi korban
Karena
hilangnya harapan
Aku tak tahu apa itu ilmu
Yang kutahu hanya tangisan haru
Telah
kulupakan bulan dan bintang
Serta
keindahan pagi dan petang
Hanya nasi yang kucari
Demi
kehidupan yang abadi
Dawai
sunyi terdengar merdu
Mengharap
uluran bahu
Tangisku
dari hati
Bukan
untuk janji
Biarkan
aku dimangsa gagak
Yang
tak pernah menolak
Bersama
angin dan air lalu
Kuratapi
dukaku
Jasad
tak bertulang
Menghias
jalan panjang
Tak
kudengar nyanyian dunia
Hanya
air mata tiada tara
Andai
kubisa menggenggam benih bahagia
Kan
selalu kutebarkan di kala duka
Tidur
adalah saat yang memenggal umurku
Tak
pernahkah kau tidur sepertiku
Jauh
dari dunia
Hidup
semakin sengsara






0 komentar:
Posting Komentar